Jurnal Amanat Agung https://oldojs.sttaa.ac.id/index.php/JAA <p>Jurnal Amanat Agung (selanjutnya, Jurnal AA) adalah jurnal berbasis <em>peer-review</em> yang diterbitkan oleh STT Amanat Agung dua kali setahun pada Juni dan Desember. Jurnal AA diterbitkan dalam rangka turut mengembangkan dan memajukan penelitian di bidang ilmu teologi, yang mencakup sub-bidang biblika, sistematika, historika, dan praktika, termasuk pendidikan Kristen, musik gerejawi, serta studi interkultural.</p> STT Amanat Agung en-US Jurnal Amanat Agung 2086-7611 KEBENCIAN SEBAGAI AKAR DEHUMANISASI: https://oldojs.sttaa.ac.id/index.php/JAA/article/view/669 <p>Kisah Sarah dan Hagar, sebagaimana diceritakan dalam narasi Alkitab, merupakan ilustrasi yang tajam tentang kekuatan destruktif dari kebencian dan kemampuannya untuk melucuti kemanusiaan individu. Melalui metode analisis pustaka, artikel ini mengeksplorasi dinamika hubungan Sarah dan Hagar, mengkaji bagaimana kebencian menyebabkan dehumanisasi Hagar, seorang perempuan yang terjebak dalam konflik antara keputusasaan dan ketidakamanan Sarah. Dengan analisis yang cermat terhadap teks tersebut dan implikasinya, ditegaskan bahwa kebencian, secara eksplisit maupun implisit, dapat melucuti kemanusiaan seseorang, dan berujung pada siklus penindasan dari generasi ke generasi. Analisis ini tidak hanya menyoroti kisah-kisah tertentu dalam Alkitab tetapi juga menawarkan wawasan yang lebih luas, terutama kaitan kisah ini dengan kehidupan manusia kontemporer terutama persoalan dehumanisasi yang berakar pada kebencian. Pada akhirnya, alternatif jawaban untuk dehumanisasi adalah rehumanisasi berbasis pemahaman manusia sebagai citra Allah.</p> Andreas Karwayu Copyright (c) 2025 Jurnal Amanat Agung https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-11-17 2025-11-17 21 2 1 37 10.47754/jaa.v21i2.669 POTENSI KEKUATAN MAZMUR RATAPAN MENURUT PANDANGAN WALTER BRUEGGEMANN DALAM MENOLONG ROHANIWAN MENGHADAPI BURNOUT https://oldojs.sttaa.ac.id/index.php/JAA/article/view/702 <p>Burnout merupakan salah satu tantangan yang kerap dialami oleh para rohaniwan dalam tugas pelayanan mereka. Tekanan eksternal dari jemaat dan gereja, serta tekanan internal yang berasal dari tuntutan diri sendiri, sering membuat rohaniwan mengalami kelelahan fisik, emosional, dan spiritual. Kondisi ini dapat mengakibatkan berkurangnya efektivitas pelayanan dan bahkan mengancam relasi rohaniwan dengan Tuhan. Berbagai penelitian telah membahas strategi pencegahan dan penanganan burnout, baik dari aspek psikologis maupun praktis. Namun, penelitian ini berusaha menawarkan perspektif baru yaitu keterkaitan konsep Mazmur dari Walter Brueggemann untuk menolong kaum klerus mengatasi <em>burnout</em>.</p> <p>Penelitian ini akan menggunakan studi literatur untuk menyajikan konsep pikir Bruegggemann mengenai Mazmur Ratapan. Tiga potensi utama Mazmur Ratapan dalam menolong kaum klerus menghadapi <em>burnout</em>: mendorong kejujuran dalam mengakui keterbatasan dan kelemahan di hadapan Tuhan, membangun kedekatan dan ketergantungan kepada Tuhan di tengah tekanan pelayanan, dan mengingatkan bahwa pencapaian utama dalam hidup para rohaniwan bukanlah kesuksesan pelayanan, melainkan relasi intim dengan Tuhan. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa Mazmur Ratapan dapat menjadi sarana refleksi spiritual bagi para klerus untuk menghadapi <em>burnout</em>. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi dalam ranah teologis, tetapi juga dapat memberikan pendekatan praktis untuk diterapkan dalam pendampingan pastoral bagi para klerus yang mengalami&nbsp;<em>burnout</em>.</p> Novian Hendry Wibowo Copyright (c) 2025 Jurnal Amanat Agung https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-12-17 2025-12-17 21 2 39 68 10.47754/jaa.v21i2.702 ATEISME: https://oldojs.sttaa.ac.id/index.php/JAA/article/view/714 <p>Angka tren ateisme yang cenderung meningkat akhir-akhir ini memerlukan penjelasan dan respons teologis yang memadai. Artikel ini mengusulkan Mazmur 14 sebagai salah satu respons teologis terhadap ateisme. Telaah terhadap Mazmur 14 sebagai respons terhadap ateisme menggunakan metode penelitian puitis-afektif. Metode penelitian puitis-afektif memiliki fitur-fitur keluhan, perasaan, Allah, dan perubahan suasana teks (mood) dalam penggalian tema sentral Mazmur 14. Penelitian puitis-afektif menghasilkan ateisme yang terdapat dalam Mazmur 14 menggambarkan dua keadaan manusia yaitu manusia yang percaya tidak ada YHWH dan manusia tanpa kepercayaan kepada ’ĕlōhîm. Mazmur 14 menegaskan keterkaitan erat apa yang dipercayai dan apa yang dilakukan. Ateisme modern sebaliknya menolak kaitan teologi dan etika.</p> Armand Barus Copyright (c) 2025 Jurnal Amanat Agung https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-12-17 2025-12-17 21 2 69 105 10.47754/jaa.v21i2.714